SHARE

Assalamualaikum sahabat Mazq Tour, kali ini salah satu rukun haji lagi kita bahas, yaitu tentang melempar jumrah. Aturan melempar jumrah ini haruslah kita ambil dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti dalam sabdanya :

( خذوا عني مناسككم( رواه مسلم) (1297

“Ambillah manasik (tata cara ibadah haji) kalian dariku”. (HR. Muslim: 1297)

Waktu lempar jumrah
Melempar jumrah dilaksanakan pada tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijah  Ada dua pendapat yang menjelaskan ini.

Pertama, Perbuatan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bahwa beliau menunda pelaksanaan melempar jumrah sampai pada waktu tersebut (setelah dzuhur), padahal waktu tersebut sangatlah panas, dan beliau tidak melakukannya pada awal waktu (pagi hari) padahal cuacanya lebih dingin dan lebih mudah, menjadi dalil bahwa tidak dibolehkan melempar jumrah sebelum waktu tersebut.

Kedua, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- melempar jumrah sesaat setelah tergelincirnya matahari dan sebelum mendirikan shalat dzuhur, maka hal ini menjadi dalil bahwa tidak sah melempar jumrah sebelum tergelincirnya matahari, kalau tidak demikian maka melempar jumrah sebelum dzuhur akan lebih utama; agar bisa mendirikan shalat dzuhur pada awal waktunya; karena shalat diawal waktunya lebih utama.

Jenis Batu

Batu untuk diambil di Mina. Tapi jika seseorang mengambil batu pada hari Id dari Muzdalifah, maka diperbolehkan. Dan tidak disyariatkan mencuci batu tetapi langsung mengambilnya dari Mina atau Muzdalifah atau dari tanah haram yang lain.

Boleh juga menggunakan batu yang terdapat di sekitar tempat lempar jumroh. Sebab pada batu di sekitar tempat melontar tidak digunakan melontar. Adapun batu-batu yang terdapat dalam bak tempat melontar, maka tidak boleh digunakan untuk melontar.

Sedangkan ukuran batu adalah kira-kira sebesar kotoran kambing dan tidak berbentuk runcing seperti pelor. Demikianlah yang dikatakan ulama fiqih.

baca juga : Memahami Haji Mabrur, Maqbul dan Mardud

Cara Melempar Jumroh

Adapun cara melontar adalah sebanyak 7 batu pada hari Id, yaitu Jumrah Aqabah saja. Tetapi jika seseorang melakukannya pada tengah malam bagian kedua dari malam Ied, maka demikian itu cukup baginya.

Sedangkan yang utama adalah melontar Jumrah ‘Aqabah antara waktu dhuha sampai terbenam matahari pada hari Ied.Tapi jika terlewatkan dari waktu itu, maka dapat melontar setelah terbenamnya matahari pada hari Ied. Caranya adalah dengan tujuh kali melontar dengan membaca takbir setiap kali melontar.

Sedangkan pada hari-hari tasyriq maka sebanyak 21 batu setiap hari, masing-masing tujuh lontaran untuk Jumrah Ula, tujuh lontaran untuk Jumrah Wustha, dan tujuh lontaran untuk Jumrah ‘Aqabah.

Adapun melontar pada hari-hari tasyriq adalah dilakukan setelah matahari condong ke barat (setelah dzuhur). Yaitu memulai dengan melontar Jumrah Ula yang dekat dengan masjid Al-Khaif sebanyak tujuh kali lontaran disertai takbir setiap melontar. Lalu Jumrah Wustha dengan tujuh kali melontar disertai takbir setiap kali melontar. Kemudian melontar di Jumrah ‘Aqabah sebanyak tujuh kali lontaran disertai takbir setiap kali melontar. Dan demikian itu dilakukan pada tanggal 11,12, dan 13 Dzulhijjah bagi orang yang tidak mempercepat pulang dari Mina. Tapi bagi orang yang ingin mempercepat pulang dari Mina, maka hanya sampai tanggal 12 Dzulhijjah.

Dan disunnahkan setelah melontar Jumrah Ula dan Jumrah Wustha berhenti di samping tempat melontar. Di mana setelah melontar Jumrah Ula disunahkan berdiri di arah kanan tempat melontar dengan menghadap kiblat seraya berdo’a panjang kepada Allah.

Sedang sehabis melontar Jumrah Wustha disunnahkan berdiri disamping kiri tempat melontar dengan menghadap kiblat seraya berdo’a panjang kepada Allah. Tapi sehabis melontar Jumrah ‘Aqabah tidak disunnahkan berdiri di sampingnya karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah melontar Jumrah Aqabah tidak berdiri disampingnya.

sumber :
almanhaj.or.id
nu.or.id
islamqa.info

Demikian yang dapat kami sampaikan semoga bermanfaat dan para jemaah haji ataupun calon jemaah haji agar dapat memahami tentang tata cara melempar jumrah.
Wallahu A’lam’.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here