SHARE

Assalamualaikum sahabat. Insya ALLAH kali ini kita akan bahas tentang sa’i. Salah satu rukun dalam haji atau umroh ini menurut bahasa memiliki pengertian lari-lari kecil / jalan cepat. Sedangkan menurut istilah sa’i berarti aktivitas ibadah haji (rukun haji/umrah) yang dilakukan dengan lari-lari kecil / jalan cepat sebanyak tujuh kali dimulai dari Shofa dan diakhiri di Marwah.

SHOFA DAN MARWAH

Shofa dan Marwah (Arab: الصفا As-Shofā ; المروة Al-Marwah) adalah dua bukit yang terletak di Masjidil Haram di Mekah.

Shofa adalah gunung kecil tempat orang memulai sa’i. Marwah adalah gunung kecil tempat orang mengakhiri Sa’i. Tapi saat ini kedua-duanya sudah menjadi bagian dari komplek Masjid Haram dan sudah tidak tampak sebagai gunung.

SEJARAH SA’I

Zaman dahulu, Nabi Ibrahim diperintahkan Allah untuk meninggalkan istrinya Siti Hajar dengan Ismail yang saat itu masih bayi di sebuah gurun yang tandus. Tidak ada makanan atau pun air di situ. Namun dari sinilah akhirnya berdirinya kota Mekkah yang sekarang ramai dikunjungi oleh puluhan juta orang setiap tahunnya. Kota Mekkah ini dikunjungi puluhan juta orang setiap tahunnya untuk berhaji dan umroh.

KETEGUHAN NABI IBRAHIM TERHADAP PERINTAH ALLAH

Ibrahim a.s. lalu berangkat. Siti Hajar pun mengikuti suaminya, lalu berkata: “Kemanakah Anda hendak pergi dan mengapa Anda meninggalkan kita di lembah ini, tanpa ada seorangpun sebagai kawan dan tidak ada sesuatu apapun?” Hajar berkata demikian itu berulang kali, tetapi Ibrahim a.s. sama sekali tidak menoleh kepadanya.

Kemudian Hajar berkata: “Adakah Allah yang memerintahkan Anda berbuat semacam ini?” Ibrahim a.s. menjawab: “Ya.” Hajar berkata: “Kalau demikian, pastilah Allah tidak akan menyia-nyiakan nasib kita.”

baca juga : 4 Macam Tawaf Yang Mesti Banget Anda Tau !

Ibu Ismail lalu kembali ke tempatnya semula. Ibrahim a.s. berangkatlah, sehingga sewaktu beliau itu datang di Tsaniyah, di sesuatu tempat yang tidak terlihat oleh Hajar dan anaknya, kemudian menghadap kiblat dengan wajahnya yakni ke Baitullah. Nabi Ibrahim berdoa:

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

”Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat. Maka, jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.(QS Ibrahim ayat 37).

SITI HAJAR DAN BAYI NABI ISMAIL

Nabi Ibrahim memberi bekal makanan dan minuman untuk istri dan anaknya. Siti Hajar menyusui Ismail dan minum dari air yang ditinggalkan itu, sehingga setelah habislah air yang ada di tempat air dan dia pun haus, juga anaknya haus pula.

Siti Hajar melihat anaknya bergulung-gulung di tanah sambil memukul-mukulkan dirinya di atas tanah itu. Karena tidak tahan melihat keadaan anaknya, Siti Hajar melihat sekelilingnya dan tampaklah olehnya bahwa Shafa adalah bukit terdekat yang ada di samping dirinya. Iapun pergi ke puncak bukit Shofa dan melihat kalau-kalau ada orang yang lewat.

Selanjutnya ia turun dari bukit Shofa, sehingga setelah ia sampai di lembah lagi, iapun mengangkat gamisnya, terus berlari-lari kecil ehingga lembah itu dilampauinya, kemudian mendatangi bukit Marwah, berdiri di atas puncak Marwah ini, menengok ke lembah, kalau-kalau ada orang yang lewat. Tetapi tidak ada, sehingga Hajar mengerjakan sedemikian itu sebanyak tujuh kali -yakni pergi bolak-balik antara Shafa dan Marwah.”

Oleh sebab itu para manusia dalam mengerjakan ibadah haji meneladani kelakuan Siti Hajar tersebut, bersa’i -yakni berlari-lari kecil -antara Shafa dan Marwah.”

KELUARNYA AIR ZAM ZAM

Siti Hajar tidak berani meninggalkan Ismail terlalu jauh, sehingga akhirnya beliau bolak-balik ke bukit Shofa dan Marwah hingga 7x. Saat Ismail menangis, beliau hampiri. Di dekat Ismail, ada malaikat yang menjejakkan kakinya ke bumi. Dari situ keluar air segar yang kita kenal dengan mata air Zam Zam. Siti Hajar pun kemudian menciduk air Zamzam tsb dengan kedua tangannya dan ditaruh ke tempat air sehingga Ismail bisa minum air tsb dan berhenti menangis.

Dengan keluarnya air Zamzam tsb, daerah situ pun jadi subur. Kabilah Arab yang lewat dari suku Jurhum akhirnya minta izin kepada Siti Hajar untuk tinggal di situ. Sejak itu, daerah yang asal mulanya tandus itu terus berkembang sehingga menjadi kota Mekkah yang kita kenal sekarang.

Air Zamzam pun tetap mengalir dan tidak habis meski ratusan juga bahkan milyaran orang sudah meminumnya selama ribuan tahun.

Itulah sejarah sa’i dan semoga menjadikan pengetahuan untuk kita dan bisa mengambil pelajaran dari kejadian tersebut. Wallahu’alam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here