SHARE

Sahabat MazQ Tour dimanapun Anda berada, sering kali bahasan umroh seperti pada artikel ini kita jumpai. Apa boleh mewakilkan pelaksanaan haji dan umrah untuk seseorang ? Terus bagaimana penjelasan tentang hukumnya. Mari kita simak bersama-sama.

Oia sebelum baca lebih lanjut yuk bantu kita untuk share artikel ini dan follow media sosial kita.
Facebook : Like MazQ Tour
Instagram : Follow MazQ Tour

Tidak berbeda dengan ibadah yang lain, haji atau umroh bertujuan agar kita sebagai manusia melaksanakannya sendiri supaya ibadahnya kepada Allah sempurna. Dan jika dalam keadaan tertentu seseorang mewakilkan ibadahnya kepada orang lain, maka dia tidak akan mendapatkan makna terbesar yang karenanya ibadah itu disyariatkan.

Apabila hajinya adalah haji fardhu, maka seseorang tidak boleh mewakilkan pelaksanaan haji dan umrahnya kepada orang lain, kecuali pada kondisi di saat orang itu tidak mungkin datang sendiri ke Ka’bah karena sakit yang berkesinambungan yang tidak mungkin sembuh, atau karena tua, dan sebagainya. Sebagaimana yang disebutkan dalam Al Qur’an :

وَلِلّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggu mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (Qs. Ali Imran: 97).

Dan apabila sakitnya bisa disembuhkan, dia harus menunggu sampai dirinya sembuh dan melaksanakan haji sendiri. Seseorang yang tidak mempunyai halangan untuk berhaji, bahkan mampu melaksanakan haji sendiri, maka tidak halal baginya mewakilkan pelaksanaan hajinya kepada orang lain, karena dialah orang yang dituntut secara pribadi.

baca juga : 7 larangan saat Umroh beserta sumber nya, no 3 sering dilanggar

Ada perbedaan pendapat di kalangan ahlul ilmi, di antara mereka ada yang membolehkan dan ada pula yang melarang untuk masalah mewakilkan ibadah haji atau umroh ini. Pendapat yang paling dekat bahwa hal tersebut dilarang, karena seseorang tidak diperkenankan mewakilkan pelaksanaan haji atau umrahnya kepada orang lain jika itu sunnah, karena asal dalam ibadah adalah melaksanakannya sendiri.

Seperti halnya tidak diperbolehkan seseorang mewakilkan puasanya kepada orang lain –baru boleh setelah dia meninggal yang diwakili oleh walinya–, begitu juga dalam ibadah haji.
sumber : https://konsultasisyariah.com/2921-hukum-mewakilkan-haji-umrah.html

Pendapat yang lain menyebutkan mewakilkan ibadah haji bagi orang yang sudah tidak mampu karena alasan yang kuat seperti sakit yang parah itu diperbolehkan berdasarkan hadits yang diriwayatkan Ibnu Abbas yang mengisahkan bahwa seorang perempuan dari Khoz’am bertanya kepada Rosululloh sholallahu ‘alaihi wasallam ;

يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ فَرِيضَةَ اللَّهِ فِي الحَجِّ عَلَى عِبَادِهِ، أَدْرَكَتْ أَبِي شَيْخًا كَبِيرًا، لاَ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَسْتَوِيَ عَلَى الرَّاحِلَةِ، فَهَلْ يَقْضِي عَنْهُ أَنْ أَحُجَّ عَنْهُ؟ قَالَ: نَعَمْ

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya kewajiban Allah atas hambanya di dalam perkara haji telah di dapati oleh bapakku yang dalam keadaan sangat tua, beliau tidak sanggup untuk duduk di atas kendaraan, bolehkah aku menghajikan atas namanya?”, beliau menjawab: Artinya: “iya” (hajikanlah atasnya)”. (Shohih Bukhori, no.6228)

Tentunya ada banyak syarat mewakilkan haji atau umroh ini, salah satunya adalah orang yang menjadi wakil adalah orang yang sudah pernah melaksanakan haji. Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan Ibnu Abbas ;

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمِعَ رَجُلًا يَقُولُ: لَبَّيْكَ عَنْ شُبْرُمَةَ، قَالَ: «مَنْ شُبْرُمَةُ؟» قَالَ: أَخٌ لِي – أَوْ قَرِيبٌ لِي – قَالَ: حَجَجْتَ عَنْ نَفْسِكَ؟» قَالَ: لَا، قَالَ: «حُجَّ عَنْ نَفْسِكَ ثُمَّ حُجَّ عَنْ شُبْرُمَةَ

“Dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi shalla Allahu ‘alaihi wa sallam mendengar seseorang mengucapkan; Labbaika ‘An Syubrumah (ya Allah, aku memenuhi seruan-Mu untuk Syubrumah), beliau bertanya: “Siapakah Syubrumah tersebut?” Dia menjawab; saudaraku! Atau kerabatku! Beliau bertanya: “Apakah engkau telah melaksanakan haji untuk dirimu sendiri?” Dia menjawab; belum! Beliau berkata: “Laksanakan haji untuk dirimu, kemudian berhajilah untuk Syubrumah.” (Sunan Abu Dawud, no.1811, Sunan Ibnu Majah, no.2903 dan  Shohih Ibnu Hibban, no.3988)
sumber : http://www.fikihkontemporer.com/2013/01/hukum-dan-syarat-syarat-mewakilkan-haji.html

Alangkah baiknya sahabat juga tidak sepenuhnya terpacu dengan artikel ini dan datang langsung menanyakan kepada ahlinya yang mengerti ilmu hukum fiqih mengenai masalah ini. Artikel kami sebagai travel umroh dan wisata halal ini hanya sebatas memberikan kutipan dan gambaran sederhana dari bolehkah mewakilkan haji atau umroh. Semoga bermanfaat.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here