SHARE

Assalamualaikum sahabat. Kami sebagai tour travel haji, umroh dan wisata halal selalu ingin menyuguhkan artikel seputar haji dan umroh kepada Anda, semoga bermanfaat. Artikel bagus satu ini mengulas tuntas mengenai ibadah haji dan kemudahannya admin rasa sahabat juga harus baca.

Agar menjaga hak cipta dari penulis sebelumnya, kami sertakan juga link asli dari artikel ini, ini linknya : klik disini. Tulisan ini sebelumnya bersumber dari Syaikh Shalih Fauzan al-Fauzan hafizhahullah, diterjemahkan dari kitab al-Bayan li Akhtha’ Ba’dhil Kuttab, 3/150-152.

Selanjutnya kami sederhanakan dengan kalimat singkat dan kami usahakan tidak akan merubah arti sebenarnya dari perkataan beliau. Ibadah Haji adalah rukun Islam yang kelima. Awalnya perintah ini turun dan diwajibkan yaitu pada tahun ke-9 hijrah.

Kisah Awal Mula Nabi SAW Melakukan Ibadah Haji

Nabi SAW tidak melaksanakan ibadah haji pada tahun tersebut, karena saat itu masih banyak kebiasaan-kebiasaan jahiliyyah yang dilakukan disekitar Ka’bah seperti melakukan thawaf dalam keadaan telanjang, dan masih ada beberapa ritual syirik dalam haji yang mereka lakukan, maka Allâh Azza wa Jalla menurunkan firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ فَلَا يَقْرَبُوا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هَٰذَا

Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini. [At-Taubah/9:28]

Lalu Nabi SAW memerintahkan kepada Abu Bakar RA untuk memimpin rombongan haji pada tahun kesembilan hijriyah itu, dan juga memerintahkan kepada Ali bin Abi Thalib RA agar menyerukan:

لَا يَحُجُّ بَعْدَ الْعَامِ مُشْرِكٌ وَلَا يَطُوفُ بِالْبَيْتِ عُرْيَانٌ

Setelah tahun ini, tidak boleh ada orang musyrik melakukan haji dan tidak boleh ada orang telanjang melakukan ibadah thawaf di sekeliling Ka’bah (HR. Al-Bukhari, no. 369 dan Muslim, no. 1347)

Ibadah Haji Nabi SAW

Setelah ibadah haji bersih dari berbagai kesyirikan dan kota Mekah kosong dari keberadaan kaum Musyrik, serta orang telanjang sudah dilarang dari ibadah thawaf disekeliling Ka’bah, maka Nabi SAW datang menunaikan haji pada tahun ke-10 hijriyah bersama ribuan kaum Muslimin. Itulah haji wada’ (terakhir) Beliau.

Rasûlullâh mengajarkan kepada mereka manasik haji (cara melakukan ibadah haji) dan juga mengajarkan hukum-hukum yang berkaitan dengannya. Itu dilakukan saat menyampaikan khutbah yang dikenal kemudian dengan nama khutbah hajjatil wada’.

Beliau Shallallahu ‘aliahi wa sallam menjelaskan kepada kaum Muslimin kaidah-kaidah agama. Pada hari itu pula, saat Beliau sedang melakukan ibadah wukuf di Araafah, Allâh Azza wa Jalla menurunkan ayat:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

Pada hari Ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. [Al-Maidah/5:3]

Ibadah haji ini, meski memerlukan biaya dan kesiapan fisik namun ibadah ini mengandung berbagai sisi kemudahan dan keringanan bagi  para hamba, diantaranya:

1.Sekali Seumur Hidup

Allâh Azza wa Jalla membebankan kewajiban haji bagi para hamba-Nya hanya sekali seumur hidup, berbeda dengan ibadah shalat yang kewajibannya berulang sebanyak lima kali dalam sehari semalam, ibadah shalat Jum’at berulang sekali dalam sepekan, zakat wajib ditunaikan sekali dalam setahun, demikian pula ibadah puasa.

2. Wajib Bagi Yang Mampu

Allâh Azza wa Jalla hanya mewajibkan haji pada orang-orang yang memiliki kemampuan. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا

Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah [Ali Imrân/3:97]

Kemampuan yang dimaksud adalah kemampuan memiliki bekal yang cukup dan tersedianya sarana transportasi, sebagaimana disebutkan dalam atsar. Jadi, barangsiapa yang tidak memiliki harta yang cukup (untuk berhaji), maka kewajiban haji gugur dari orang tersebut.

Adapun orang yang memiliki harta yang cukup akan tetapi tidak memiliki kemampuan secara fisik, karena usia yang sudah tua atau karena menderita penyakit yang kronis maka dia boleh meminta orang lain mewakilinya untuk melaksanakan haji yang wajib.

Sedangkan orang yang menderita sakit dan masih ada harapan bisa sembuh dari penyakitnya, maka ia menunggu sampai sembuh dan setelah sembuh, dia sendiri bisa menunaikan ibadah haji.

3. Pelaksanannya Tidak Lama

Allâh Azza wa Jalla menetapkankan bahwa pelaksanaan rangkaian ibadah haji hanya dilakukan dalam beberapa hari saja. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ

Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang [Asl-Baqarah/2:203]

Rangkaian ibadah haji hanya dilaksanakan pada hari Arafah, hari raya Idul Adha dan pada hari-hari tasyriq saja. Allâh Azza wa Jalla tidak menjadikan pelaksanaan rangkaian ibadah haji tersebar dalam waktu yang lama yang bisa menyulitkan umat manusia, padahal jumlah mereka banyak dan di tempat-tempat yang terbatas.

4. Bisa dipercepat

Allâh Azza wa Jalla membolehkan mempercepat penuntasan pelaksanaan ibadah haji pada tiga hari tasyriq yaitu tanggal 11 sampai 13. Barangsiapa ingin menyempurnakan pahalanya, maka ia bisa menyempurnakan mabitnya (bermalam) di Mina selama tiga malam dan di siang harinya melakukan lempar Jumrah.

Dan barangsiapa ingin mempercepat atau menyelesaikan ibadah hajinya pada tanggal 12 sesuai dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

فَمَنْ تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ وَمَنْ تَأَخَّرَ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ ۚ لِمَنِ اتَّقَىٰ

Barangsiapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya. dan barangsiapa yang ingin menangguhkan (keberangkatannya dari dua hari itu), maka tidak ada dosa pula baginya, bagi orang yang bertakwa.  [Al-Baqarah/2:203]

Maka dia bisa melakukan lempar Jumrah setelah Zhuhur lalu meninggalkan Mina sebelum matahari tenggelam. (Jika dia masih berada di Mina sampai matahari tenggelam, maka dia wajib melanjutkan mabitnya di Mina dan besok harinya melakukan lempar Jumrah)

5. Tempat rangkaian Ibadah berdekatan

Masyair atau tempat-tempat pelaksanaan rangkaian ibadah haji dijadikan berdekatan oleh Allâh Azza wa Jalla dan berada di satu arah yaitu di Masjidil Haram, Mina, Muzdalifah dan arafah. Oleh karena itu, pejalan kaki pun bisa melaksanakan rangkaian ibadah haji dalam waktu singkat.

6. Kemudahan bagi orang yang lemah (fisik)

Orang-orang yang lemah atau yang semisalnya diperbolehkan oleh Allâh Azza wa Jalla untuk bertolak dari Muzdalifah pada pertengahan malam kesepuluh. Mereka juga dibolehkan untuk melempar Jumrah, mencukur rambut, melakukan thawaf dan sa’i setelah mereka meninggalkan Muzdalifah, agar terhindar dari kepadatan manusia dan kesulitan.

baca juga kelanjutannya : Part II Kemudahan dalam Ibadah Haji

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun XX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here